Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Selasa, 04 Desember 2012

Gaib di dalam Keris Jawa

Karakteristik khusus sebuah keris         Gaib Keris adalah sesuatu yang seringkali menjadi polemik dalam kepemilikan sebuah keris. Keberadaan suatu sosok gaib di dalam sebuah keris adalah yang menyebabkan sebuah keris memiliki kegaiban / tuah tertentu bagi pemiliknya. Kegaiban inilah yang membedakan keris dengan senjata jenis lain. Aspek kegaiban keris seringkali dikultuskan dan menjadi mitos dan legenda di masyarakat. Selain karena faktor budaya dan aspek purbakala, kegaiban keris inilah yang seringkali menjadi dasar / pendorong seseorang untuk memiliki keris. Tetapi aspek kegaiban ini pula yang seringkali menjadi alasan keris dijauhi orang karena kesan kleniknya.

Di pulau Jawa khususnya, pada jamannya, selain faktor kegaibannya, keris merupakan lambang derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata perang / tarung.  Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang cara mengenakan keris dan jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang. Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah.
Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati. Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja. Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati, dsb.

Bila ada seseorang memiliki keris yang derajat kerisnya lebih tinggi dari kedudukan dirinya di masyarakat, maka orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan diserahkan / dipersembahkan kepada orang lain yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga seseorang yang berderajat tinggi, tidak akan mengenakan keris untuk orang berderajat di bawahnya. Biasanya akan disimpan saja di ruang pusakanya atau diberikannya kepada orang lain yang pantas memakainya. Demikianlah, keris pun memiliki kelas-kelasnya sendiri sesuai kepantasan dari status pemiliknya di masyarakat, dan masyarakat pun menghormati keris sesuai derajatnya masing-masing.


Keris bersifat khusus dan pribadi, dibawa dengan diselipkan di belakang pinggang (kecuali yang bentuknya kecil, dikenakan di depan). Dalam kondisi berperang atau bertarung-pun, biasanya keris tidak langsung dikeluarkan untuk digunakan bertarung. Biasanya orang akan berkelahi atau bertarung dengan tangan kosong (adu kanuragan) atau menggunakan senjata selain keris, misalnya  tombak, golok, cemeti, trisula, pedang, atau gada. Keris hanya akan digunakan bila seseorang benar-benar berniat membunuh lawannya, atau bila kondisinya benar-benar terdesak, berada dalam pilihan: membunuh atau dibunuh, dan tidak ada senjata lain yang dapat diandalkannya, barulah kerisnya akan digunakan. 

Jadi, keris bukanlah senjata utama dalam bertarung, tetapi keris menjadi senjata pamungkas yang diandalkan. Terjadi demikian karena dalam
budaya dan hati orang Jawa, keris bukanlah semata-mata senjata untuk bertarung. Ada sesuatu yang lain yang dipercaya ada di dalam sebuah keris, yaitu  kegaiban keris

Keberadaan sebuah keris sangat dimuliakan. Ada pantangan untuk mengeluarkan keris di dalam
perkelahian / pertarungan, kecuali keris itu memang diniatkan untuk membunuh lawan. Dan pantang keris yang sudah dihunus dimasukkan kembali ke dalam sarungnya sebelum keris itu masuk dahulu ke badan lawan.Di dalam masyarakat Jawa umumnya keris dikenakan dengan diselipkan di belakang pinggang. Penampilan itu mencerminkan kepribadian Jawa yang suka merendahkan hati dan mengutamakan jalan damai daripada kekerasan. Keris tidak ditampilkan sebagai lambang kegagahan dan keberadaannya juga tidak ditonjolkan. Jika ada perselisihan, orang Jawa lebih suka menyelesaikannya dengan cara damai daripada berkelahi. Namun jika jalan damai tidak didapatkan, orang Jawa juga tidak keberatan menghunus kerisnya untuk mempertahankan harga dirinya.

Kegaiban keris telah menyebabkan keris bersifat pribadi bagi pemiliknya. Itu juga yang menyebabkan adanya tradisi, seseorang yang ingin membeli atau menjual sebuah keris, tidak menyebut harga keris, tetapi "mahar" atau "mas kawin" sebuah keris. Tradisi perlakuan tersebut sama seperti seseorang yang harus menyediakan "mas kawin" untuk meminang anak gadis seseorang. Makna dari perlakuan tersebut adalah seseorang yang membeli / menerima sebuah keris dari orang lain atau menjual / menyerahkan sebuah keris kepada orang lain, mereka bukan hanya memindahtangankan sebuah keris, tetapi juga kegaiban di dalamnya.

Gaib Keris dan Tujuan Kegaiban Keris
Keris sengaja dibuat oleh empunya dengan kegaiban di dalamnya, untuk menjadi piyandel  bagi pemiliknya, yaitu selain sebagai senjata, juga diandalkan mendampingi kehidupan sehari-hari pemiliknya karena keris mempunyai kegaiban / tuah tersendiri yang berbeda dengan jenis senjata lain, seperti untuk perlindungan gaib, kesaktian, kekuasaan, kepangkatan dan wibawa, atau rejeki dan ketentraman. Dengan demikian kegaiban itu merupakan ciri / karakteristik khusus dari sebuah keris yang membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain. Yang sangat membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain adalah justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris itu sendiri sejak awal pembuatannya. Jadi, bila ada keris yang tidak ada isi gaibnya (kosong), maka itu bukanlah keris, tetapi keris-kerisan atau keris souvenir.
Setiap keris dibuat sebaik mungkin sesuai batas kemampuan sang empu keris, melalui proses spiritual untuk mencari tahu keris apa yang cocok bagi si pemesan, puasa dan laku tirakat untuk mendatangkan gaib keris yang cocok dengan si pemesan, puasa dan laku tirakat dalam masa persiapan pembuatan keris, laku tirakat selama proses pengerjaan hingga selesai, dan sebagainya, sampai keris tersebut selesai dibuat. Setelah selesai pembuatannya pun masih lagi dilakukan proses ritual untuk menyatukan keris dan kegaibannya dengan si pemesan.  Karena itu bila pembuatannya belum selesai atau belum sempurna, menurut tanggapan sang empu, maka keris itu tidak akan diserahkannya kepada si pemesan  Keris tersebut baru akan diserahkannya bila menurut tanggapan sang empu keris tersebut telah benar-benar sempurna segalanya, sempurna kegaibannya, sempurna pembuatannya, sempurna sesajinya, dan sempurna kecocokkannya dengan si pemesan. Itulah yang terjadi ketika Mpu Gandring menolak untuk menyerahkan keris buatannya yang belum sempurna, sehingga Ken Arok harus merampasnya dengan paksa.  Dan karena Ken Arok dengan kesombongannya merampas dan juga menusuknya dengan keris itu, di dalam kemarahannya Mpu Gandring mengucapkan kata-kata kutukan bahwa Ken Arok tujuh turunan akan mati oleh keris itu. Dan ucapannya jadi !


Demikianlah terjadi. Entah bagaimana pun caranya Ken Arok dan anak-anaknya atau orang lain yang dekat / diaku anak olehnya atau oleh anak-anaknya, pasti mati oleh keberadaan keris itu.
Kata-kata Mpu Gandring itu adalah perintah bagi si gaib keris untuk melaksanakannya, terserah bagaimana caranya.


Pada saat penobatan Gajah Mada oleh Ratu Tribhuana Tunggadewi menjadi Mahapatih Majapahit, sambil menghunus keris lurusnya Surya Panuluh, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa",  sesudah wilayah "Nusantara" bersatu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, barulah Gajah Mada mau menikmati palapa (menikmati hidup santai atau berhenti bekerja). Dengan sumpahnya itu Gajah Mada menyatakan akan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, tidak akan hidup santai sebelum sumpahnya terlaksana.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada, dan kerisnya menjadi saksi kesungguhan tekadnya. Sumpah Palapa itu sangat menggemparkan dan dicemooh banyak orang yang hadir di dalam acara pelantikan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi, karena Gajah Mada mengikrarkan penaklukkan suatu wilayah yang luas sekali, sedangkan Majapahit saat itu belumlah menjadi kerajaan besar.


Tetapi bersama kerisnya, yang mengiringinya dengan kegaibannya, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa berhasil diwujudkan oleh Gajah Mada, kerajaan Majapahit berjaya mengembangkan kekuasaannya bukan hanya ke utara seperti pada jaman Singasari, tetapi juga ke timur dan ke barat. Di bawah kerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan Singasari dahulu diperluas lagi menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah nusantara. Mahapatih Gajah Mada telah membuktikan tekadnya mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan tidak berhenti bekerja sebelum Majapahit mencapai kejayaannya.


Gajah Mada juga berhasil menaikkan wibawa raja di mata rakyatnya, mewujudkan figur raja jawa yang tergambar dalam filosofi manunggaling kawula lan gusti, manunggalnya rakyat dengan rajanya, dimana rakyat menjunjung tinggi raja sesembahannya dan raja mengayomi rakyatnya. Juga para penguasa daerah di jawa timur dan jawa tengah, kadipaten dan kabupaten, menjunjung tinggi dan menyatu dengan kebesaran kerajaan Majapahit, sehingga meniadakan hasrat untuk memberontak. Semuanya menyatu di bawah panji-panji Majapahit.



Sifat dan kekuatan kegaiban keris bervariasi, tidak semuanya sama. Seseorang yang memiliki sebuah keris tidak berarti dia juga pasti telah menguasai kegaiban dari keris itu, karena kekuatan kegaiban keris itu hanya akan sempurna ketika jiwa keris itu telah menyatu, telah luluh ke dalam pribadi manusia pemiliknya. Begitu juga bagi yang memiliki atau mengkoleksi banyak keris.

Tuah keris yang paling dasar adalah untuk perlindungan bagi si pemilik dari serangan gaib / kejahatan. Jadi, selain tuah untuk kesaktian, kekuasaan atau rejeki, keris juga memberikan tuah sebagai perlindungan gaib bagi si pemilik. Dengan demikian, bila dikatakan bahwa ada sebuah keris yang memiliki tuah untuk kesaktian, kewibawaan atau rejeki, terkandung juga di dalamnya tuah untuk perlindungan
gaib, walaupun tuah ini tidak selalu dominan.
Tuah-tuah seperti tersebut di atas bisa juga diberikan oleh benda-benda bertuah lain, yang sering disebut jimat. Biasanya jimat-jimat inilah yang banyak dimiliki orang, karena selain tuahnya yang bisa diharapkan, juga bentuknya lebih sederhana / kecil, mudah dibawa dan tidak memerlukan perawatan khusus seperti keris. Namun keris tetap mempunyai peminat tersendiri, bahkan banyak juga yang sengaja mengkoleksi keris.


Mahluk gaib yang menghuni sebuah keris (keris tua yang dibuat oleh empu keris jawa jaman dulu, bukan keris baru buatan jaman sekarang) adalah jenis tersendiri, tidak sebangsa dengan jin atau dedemit seperti banyak dikata orang. Jenis gaib di dalam keris jawa mirip dengan yang biasa disebut  "wahyu",  seperti wahyu keprabon, kepangkatan, lurah, dsb,  tetapi dimensinya lebih rendah daripada gaib wahyu  (dibandingkan gaib wahyu, gaib keris lebih mudah untuk dilihat dan lebih mudah untuk dirasakan keberadaannya). 
Walaupun orang banyak sekarang sering menyebutnya sebagai  'khodam' keris, tetapi oleh para empu keris dan pemerhati keris, gaib keris itu sering disebut wahyu. Dalam rangka  "mendatangkan" gaib untuk sebuah keris dilakukanlah laku puasa dan tirakat oleh sang empu. Proses laku-nya menggunakan olah batin dan olah spiritual secara bersama-sama, karena yang akan didatangkan adalah suatu gaib jenis khusus. Memang tidak sama dengan proses mengisikan gaib ke dalam batu cincin atau jimat yang hanya menggunakan amalan gaib atau kebatinan saja.

Ketika gaib keris itu sudah datang dan menyatu dengan keris itu (sebagai rumahnya yang baru), maka dikatakan  'wahyu' -nya sudah datang. Ketika si pemilik keris sudah menerima keris itu (yang sudah selesai pembuatannya), maka si pemilik keris disebut "kewahyon".  Disebut demikian karena wahyu-nya menyertai dia, dan memang dikhususkan hanya untuk dia saja, bukan untuk orang lain ataupun keturunannya.

Wujud dari sosok gaib keris bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Jenis ini juga berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada mahluk halus bangsa wahyu. Mereka menghormati para dewa yang menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau "turun" untuk mengikut kepada seorang manusia  hanya  jika diminta oleh seorang spiritualis (empu) yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya. Namun setelah tugasnya selesai, mereka tidak segera kembali ke asalnya, tetapi memilih tetap tinggal di dalam keris yang telah menjadi rumahnya yang baru  (baca juga: Bangsa Dewa dan Wahyu ).

Empu keris jaman dulu sengaja mendatangkan gaib keris jenis wahyu, karena selain bisa dipastikan bahwa gaib kerisnya itu adalah dari golongan yang baik, juga supaya perpaduan antara wahyu yang sudah ada pada diri si pemilik keris dengan gaib wahyu dari kerisnya bisa menghasilkan suatu sinergi kegaiban yang selaras dan berlipat-lipat ganda kekuatan pengaruhnya. Dengan keris buatannya itu si empu keris memadukan kinerja gaib keris buatannya dengan wahyu dewa yang sudah ada pada diri seseorang, suatu tindakan spiritual yang sangat tinggi, yang tidak dapat dicapai kebanyakan manusia jaman sekarang yang hanya sampai pada tataran kebatinan saja, yang mampu membuat jimat beserta kegaibannya, tetapi tidak memperhatikan ada / tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang.

Seandainya pun seorang calon pemilik keris tidak memiliki wahyu dewa dalam dirinya, tetapi proses ritual pembuatan keris akan tetap dilakukan seperti itu. Ini adalah bentuk tanggung jawab sang empu keris, supaya kerisnya tersebut memberikan kebaikan kepada siapapun pemakainya dan juga akan menjadi "berkah" bagi kehidupan pemiliknya. Dan tuah dari keris-keris itu akan bekerja sesuai penyatuan kebatinan antara si keris dengan si manusia pemiliknya.

Pada jaman sekarang kebanyakan manusia memandang keris hanya sebagai senjata jaman dulu yang memiliki muatan gaib, penggunaannya pun sama dengan senjata penusuk lainnya, dan yang berhubungan dengan kegaiban keris, penggunaannya sama dengan cara-cara perdukunan yang mengandalkan kekuatan khodamnya saja, sehingga orang akan terdorong untuk mencari dan memiliki keris yang "katanya" tuahnya ampuh dan khodamnya sakti.


Padahal kekuatan tuah dari sebuah keris jawa akan bekerja sesuai tingkat penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya, sehingga sekalipun kekuatan khodam keris jawa tidak tinggi, tetapi tuahnya akan melipat-gandakan kegaiban dari perbuatan-perbuatan si manusia dalam hidupnya (meningkatkan tingkat keberhasilan usaha dan upaya si manusia).

Pada jaman dulu keris-keris lebih diutamakan kecocokkan tuahnya dengan si manusia, tujuannya untuk disatukan dengan kebatinan manusianya, sehingga contohnya yang tuahnya untuk kesaktian dan kekuasaan, walaupun kesaktian khodam kerisnya tidak terlalu tinggi, tetapi penyatuan si keris dengan si manusia menyebabkan manusia itu bisa malang melintang di dunia persilatan dan wibawaannya juga akan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Dan biasanya dalam setiap pembuatan keris tingkat kesaktian khodamnya sudah disesuaikan dengan si manusia calon pemiliknya, sehingga kekuatannya sebanding dan bisa "mendongkrak" kegaiban si manusia.

Itulah sebabnya dalam membuat keris para empu jawa melakukan berbagai proses ritual gaib, yang menurut pandangan awam jaman sekarang dianggap tidak perlu dan para empu keris jaman sekarang pun sudah tidak lagi melakukan yang sedemikian itu. Berbagai proses ritual itu memang suatu keharusan supaya keris yang dihasilkan oleh si empu keris benar-benar sempurna sebagai pendamping manusia pemiliknya. Berbagai proses ritual tersebut justru dilakukan oleh para empu keris karena mereka benar-benar menguasai bidangnya dan tercapainya tujuan seperti tertulis di atas hanya mereka yang menguasai spiritual tingkat tinggi saja yang mampu melakukannya.

Bahkan dalam rangka membuat sebuah keris yang bersifat pesanan khusus, seorang empu keris sebelumnya harus melakukan semadi dan tapa brata berbulan-bulan hanya untuk mencari tahu jenis gaib yang cocok untuk si manusia calon pemilik keris dan mencarikan kesesuaian supaya sosok gaib itu mau didatangkan. Setelah didapatkan kecocokkan dengan si sosok gaib keris, barulah kemudian fisik kerisnya dikerjakan pembuatannya mengikuti semua persyaratan yang ditentukan oleh si gaib keris. Itulah sebabnya biasanya kerisnya akan melambangkan pribadi gaib keris yang bersemayam di dalamnya, bukan hanya sifat gaib kerisnya, tetapi fisik keris itu juga akan menggambarkan perlambang sosok gaib kerisnya, seperti keris-keris nagasasra dan sabuk inten, atau keris sengkelat, singa barong, dsb (yang bukan keris tiruan), yang masing-masing fisik kerisnya melambangkan sosok dan watak gaib kerisnya, yang manusia tidak akan pernah mengetahuinya jika menilai sebuah keris hanya dengan melihat gambar pamor di badan keris.


Harap diperhatikan, seringkali semua sosok gaib, termasuk yang berdiam di dalam sebuah keris, mustika ataupun jimat, tidak mau keberadaan atau jati dirinya diketahui
oleh manusia. Mereka sendiri masing-masing memiliki nama, tetapi nama mereka dan juga sosok mereka seperti apa, tidak ingin diketahui oleh manusia. Mereka juga tidak mempermasalahkan keris, mustika atau jimat itu diberi nama atau sebutan apa, sepanjang nama dan sebutan itu tidak bersifat merendahkan. Para empu keris juga biasanya tidak memberi nama tertentu pada keris-keris buatannya. Pemberian nama keris biasanya dilakukan oleh manusia pemiliknya untuk melakukan pembedaan antara keris yang satu dengan keris yang lain.

Terjadi demikian karena pada umumnya para mahluk gaib secara alami memang keberadaan dan jati dirinya tidak ingin diketahui oleh manusia, dan
sosok gaib di dalam sebuah keris, jimat atau mustika tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, tetapi sudah menjadi satu kesatuan dengan benda gaibnya. Diharapkan manusia pemiliknya akan memiliki keris atau benda-benda gaib tersebut secara utuh beserta kegaiban di dalamnya, tidak perlu menyebutkan nama atau membayangkan sosok gaibnya seperti apa. Dengan demikian sebaiknya kita juga  tidak memaksakan diri untuk mencari tahu nama dan sosok gaibnya seperti apa, untuk menghargai mereka, cukup kita menyebutkan nama keris, mustika, atau nama jimatnya saja, bukan nama sosok gaibnya.


Wahyu Keraton di dalam Keris Jawa
Keris-keris yang dalam pembuatannya ditujukan untuk menjadi keris-keris pusaka keraton (pusaka kerajaan, kadipaten / kabupaten), yang maksud pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu keprabon atau wahyu kepemimpinan pada diri seseorang, memiliki tuah yang luar biasa, yang tidak bisa disejajarkan dengan keris-keris yang umum ataupun jimat-jimat dan mustika. Selain biasanya berkesaktian tinggi, tuah dan wibawanya pun tidak sebatas hanya melingkupi diri manusia pemakainya, tetapi melingkupi suatu area yang luas yang menjadi wilayah kekuasaan yang harus dinaunginya. Biasanya sosok gaibnya juga adalah raja atau penguasa di alamnya. Tuahnya menyerupai perwatakan wahyu keprabon yang menyebabkan para mahluk halus dan manusia di dalam lingkup kekuasaannya menghormati si keris dan si manusia sebagai pemimpin dan penguasa di wilayahnya.

Karena itu pada masanya, mungkin juga sampai sekarang, banyak orang memiliki pengertian yang salah, seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka-pusaka keraton itu akan dapat lebih mudah menduduki tahta kekuasaan, sehingga banyak orang yang memiliki pamrih atas pusaka-pusaka tersebut.


Padahal segala sesuatunya tergantung pada orang itu sendiri. Dan tergantung kepadanya juga apakah jiwa pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam dirinya. Itulah yang disebut wahyu. Dan wahyu itu tidak dapat diperoleh hanya melalui pemilikan keris saja. Untuk dapat menerima wahyu, seseorang harus menjadikan dirinya sebagai wadah yang sesuai dengan watak dan sifat-sifat wahyunya. Karena itulah untuk dapat menerima wahyu seseorang harus bekerja keras, mesu raga  penuh keprihatinan dan membentuk sifat-sifat kepribadian dan perbuatan yang sesuai dengan sifat-sifat wahyunya.

Seseorang yang memiliki keris pusaka keraton, bukanlah jaminan bahwa dia akan dapat mencapai tampuk pemerintahan, selama jiwa orang tersebut masih belum luluh dengan jiwa keris-keris itu. Apabila seseorang telah benar-benar menguasai keris-keris tersebut, serta jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya, barulah orang tersebut mendapatkan sipat kandel  yang sebenarnya. Selama masih ada selisih antara kebatinan seseorang dengan keris-keris itu, maka selama itu pula keris-keris keramat tersebut tidak akan berguna.

Karena itulah, meskipun seseorang berhasil menyimpan keris-keris itu untuk dirinya sendiri, dan seandainya dia ingin memegang tampuk pemerintahan, tidak akan dicapainya, karena jiwa keris-keris itu tidak dapat luluh ke dalam dirinya. Itulah yang terjadi pada orang-orang yang berambisi menjadi penguasa, walaupun mereka membekali dirinya dengan bermacam-macam pusaka, tetapi pusaka-pusaka itu tidak dapat menyatu dengan dirinya. Yang kemudian terjadi adalah keberadaan mereka hanya membuat kacau keadaan, pemerintahan yang tengah berjalan menjadi goyah karena digerilya oleh orang-orang tersebut. Rakyat yang menjadi korban.

Demikianlah keris-keris tersebut baru akan bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya.

Contohnya adalah  keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang fisiknya cemerlang seperti emas dan intan. Apabila mereka telah luluh ke dalam diri seseorang, maka kecemerlangannya akan hilang, menjadi seperti keris biasa saja yang bersalutkan emas dan intan. Dan orang, yang jiwa keris-keris itu luluh ke dalam dirinya, orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap di dalam dirinya.

Kyai Nagasasra mempunyai karakter berwibawa, disujuti oleh kawula, dicintai dan dihormati rakyat, berperikemanusiaan, melindungi dan memberi kesejahteraan kepada rakyat.
Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti lautan, luas tak bertepi, menampung arus sungai dan banjir yang bagaimanapun besarnya. Dan airnya selalu bergerak ke tempat yang membutuhkannya, tetapi gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatannya bila diperlukan.
Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten melambangkan perwatakan dewa Wisnu.

Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten masih harus dilengkapi dengan Kyai Sengkelat, keris yang juga tidak kalah pentingnya. Keris yang memiliki watak lengkap seorang prajurit sejati, mewakili perwatakan dewa Hanoman, yang setia dan patuh pada kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk tanah tumpah darah dan rakyatnya dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dan setia menjalankan perintah-perintah Yang Maha Kuasa.

Watak-watak manusia yang demikianlah yang dicari oleh mereka, yang diharapkan layak dan mampu menjadi pemimpin dan berbudi luhur, sesuai watak dari keris-keris tersebut. Karenanya kesejahteraan rakyat dapat dijamin dan memberi kesempatan mengalirkan bantuannya kepada yang membutuhkannya.

Itulah sebabnya keris-keris tersebut di atas dan keris-keris lain yang dahulu terkenal kesaktiannya, sekarang tidak ada lagi dalam kehidupan manusia. Mereka telah moksa. Masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau jatuh ke tangan orang-orang yang mereka tidak berkenan. Tetapi pada waktunya nanti setelah ditemukan sosok manusia yang sesuai dengan perkenan mereka, dengan sendirinya mereka akan datang menggabungkan diri dengan orang tersebut tanpa perlu diminta.
(baca juga : Pusaka & Mustika di Alam Gaib).


Keris-keris tertentu yang terkenal kesaktian dan tuahnya, karena banyak orang yang ingin memiliki dan memesan untuk dibuatkan, kemudian banyak dibuat tiruan / turunan-nya, sehingga kemudian banyak keris yang bentuknya seragam. Contoh keris yang banyak ditiru adalah keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dan keris Kyai Sengkelat, dan keris-keris tiruannya sering disebut keris berdapur nagasasra (atau berdapur naga), berdapur sabuk inten atau berdapur sengkelat.


Bila yang membuat keris-keris berdapur naga atau sengkelat itu adalah empu yang sama dengan yang membuat keris aslinya, maka keris-keris itu disebut keris turunannya, tetapi bila yang membuatnya adalah empu lain, maka keris-keris itu disebut keris tiruannya (tetiron).
Sebagai tambahan, bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib khodam keris pun ada aturan hirarki status dan kelas gaib keris, yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan wahyu dewa itu sejalan (baca :  Status Keris dan Kelas Keris).

Sesuai status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan itu, kualitas keris yang dibuat dan kemampuan para empu keris dalam membuat masing-masing jenis keris pun terbagi-bagi sesuai kelas masing-masing empu keris yang ditentukan berdasarkan tingkatan kualitas wahyu dewa yang diterima oleh masing-masing empu keris, tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan pribadi manusia sang empu keris.


Karena itu, sehubungan dengan sifat gaib keris dan wahyu dewa, orang-orang jawa jaman dulu memahami bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan sebuah keris adalah bersifat sakral (bukan klenik), mulai dari proses awal pembuatannya sampai keris itu jadi dan dimiliki oleh seseorang.

Dalam proses pembuatan keris jawa, sang empu keris melakukan upacara ritual keagamaan untuk memohon kepada Dewa (sesuai agama jaman dulu) untuk berkenan menurunkan gaib wahyu keris yang sesuai dan sekelas dengan orang si calon pemilik keris. Setelah sosok gaib keris itu datang, pembuatan keris dilakukan dengan mengikuti semua persyaratan yang diajukan oleh si gaib keris, mulai dari sesajinya, cara pembuatan / penempaan logam, bentuk fisik keris, sampai tatacara pemeliharaan keris setelah selesai pembuatannya dan dimiliki oleh si manusia pemilik keris.

Pada jaman sekarang ini Penulis pernah menemukan ada keris jawa tertentu, yang dibuat pada jaman Demak atau sesudahnya, yang sosok isi gaibnya adalah dari bangsa jin, bukan mahluk halus sejenis gaib wahyu keris. Penulis tidak mengetahui penyebab pastinya mengapa terjadi begitu. Mungkin saja terjadi karena sang empu keris dalam membuat keris tersebut menggunakan tatacara yang berbeda dengan tatacara para empu keris pada umumnya, atau dalam pembuatannya menggunakan tatacara dan doa-doa sesuai agama yang baru pada masa itu yang berbeda dengan agama lama para empu keris sebelumnya. Salah satu contohnya adalah keris milik Penulis sendiri dengan gambar di bawah ini :



Ada juga beberapa keris yang pernah dikosongkan isi gaibnya, sehingga mahluk gaib yang kemudian masuk dan tinggal di dalam keris tersebut bukan lagi sosok aslinya. Atau ada keris-keris yang didapatkan dari hasil penarikan gaib, yang prosedurnya tidak tepat, sehingga ketika kerisnya telah mewujud di alam nyata manusia, sosok gaib kerisnya tidak ikut serta (kerisnya kosong). Mahluk gaib yang kemudian masuk dan tinggal di dalam keris tersebut bukan lagi sosok gaib aslinya. Jika keris-keris tersebut kemudian menjadi milik anda, maka anda mendapatkan keris yang isi gaibnya bukan aslinya  (baca: Keris yang Dikosongkan Isinya).

Terlepas dari perdebatan mana yang lebih baik mengenai jenis sosok isi gaib keris, Penulis hanya ingin menekankan bahwa ternyata tidak semua keris jawa tua sosok isi gaibnya adalah dari jenis gaib wahyu keris. Jadi tidak pasti  bahwa semua keris jawa tua isi gaibnya adalah dari jenis gaib wahyu keris, atau karena ada kejadian-kejadian yang menyebabkan isi gaib kerisnya bukan lagi sosok gaib aslinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA