Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Selasa, 04 Desember 2012

BEDANYA KERIS TAYUH DAN AGEMAN



 
Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa

Dalam budaya perkerisan jaman sekarang dikenal
istilah adanya dua jenis keris, yaitu keris tayuhan dan keris ageman. Pengertian umum tentang keris tayuhan dan keris ageman adalah sebagai berikut :Keris Tayuhan  adalah jenis keris yang dalam pembuatannya lebih dikedepankan sisi isoteri keris (kegaiban sebuah keris) dan sangat diharapkan tuahnya.  Bentuk fisiknya tidak selalu bagus / indah dipandang dan tidak selalu memiliki atau dipasangi aksesories yang memperindah bentuknya. Jenis keris ini lebih diutamakan sisi kegaibannya, bukan sisi keindahannya. Keris Ageman  adalah jenis keris yang dalam pembuatannya lebih dikedepankan sisi keindahan bentuknya (tampak luar sebuah keris / eksoteri).  Jenis keris ageman biasanya memiliki atau dipasangi aksesories untuk memperindah penampilan fisiknya.  Walaupun tuahnya juga diharapkan, jenis keris ageman lebih diutamakan keindahan penampilannya.Orang yang menyimpan keris untuk pribadinya sendiri, biasanya lebih mengutamakan jenis keris tayuhan, yaitu jenis keris yang diharapkan tuahnya / kegaibannya.  Keris semacam ini biasanya mempunyai kesan wingit, angker, memancarkan perbawa, dan ada juga yang menakutkan. Walaupun segi keindahan tidak dinomor-satukan, namun keris itu tetap indah karena pembuatnya adalah seorang empu keris. Di kalangan peminat dan pecinta keris, keris tayuhan bukanlah keris yang mudah untuk diperlihatkan kepada orang lain, apalagi dengan tujuan untuk dipamerkan. Keris tayuhan biasanya disimpan di dalam kamar pribadi dan hanya dibawa keluar kamar jika akan dibersihkan atau diwarangi.

Namun kolektor keris yang mengerti seluk-beluk perkerisan, biasanya memiliki kedua macam jenis keris itu, yaitu keris jenis tayuhan dan keris jenis ageman. Biasanya keris jenis tayuhan menjadi simpanan pribadinya dan tidak (jarang sekali) ditunjukkan kepada orang lain. Sedangkan yang jenis keris ageman boleh dipamerkan kepada orang lain, bahkan mungkin akan dipindahtangankannya jika  "mas kawin" - nya sesuai.

Pemahaman keris tayuhan dan keris ageman adalah pemahaman para pemerhati keris pada jaman sekarang. Namun penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan tersebut. Dalam menilai sebuah keris, Penulis lebih menekankan aspek sejarah keris itu sendiri dan tujuan pembuatannya pada waktu
keris itu dibuat oleh empunya dan kondisi atau pengaruhnya pada masa kini, tidak semata-mata hanya memandang aspek masa kini dimana keris hanya dipandang sebagai benda purbakala atau peninggalan masa lalu yang dinilai kondisinya pada masa kini.

Pada awalnya, di tanah jawa (jawa tengah dan jawa timur) keris diciptakan hanya untuk memberikan tuah kesaktian, kekuasaan dan wibawa. Keris (dan tombak) adalah
sebuah benda yang menjadi kebanggaan masyarakat pada umumnya dan merupakan lambang status / derajat pemiliknya.  Keris menjadi  "keharusan" untuk dimiliki oleh para pejabat, baik raja, keluarga kerajaan atau bangsawan, orang-orang kaya, para senopati sampai prajurit  (prajurit biasanya menggunakan jenis tombak), pejabat bupati sampai lurah desa. Di kalangan masyarakat umum-pun hampir semua orang laki-laki ingin memiliki keris, terutama mereka yang memiliki ilmu beladiri dan orang-orang tua yang menghayati spiritual kejawen.

Keris sengaja dibuat oleh empunya dengan kegaiban di dalamnya, dibuat khusus sesuai keinginan si pemesan, seperti untuk perlindungan, kesaktian, kekuasaan, kepangkatan dan wibawa, atau rejeki (dagang / tani untuk saudagar, tuan tanah atau masyarakat di pedesaan).  Tuah keris yang paling dasar adalah ditujukan untuk keselamatan dan perlindungan bagi si pemilik dari serangan gaib / kejahatan.  Tuah / kegaiban inilah yang menjadi karakteristik khusus dari sebuah keris dan yang membedakannya dengan benda-benda atau jenis senjata lain. Bila ada keris yang tidak ada gaibnya (kosong), maka itu bukanlah keris, tetapi keris-kerisan atau keris souvenir.

Ulasan di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya keris dibuat oleh sang empu dengan kegaiban di dalamnya dan kegaiban itu memang disengaja dan ada tujuannya.  Mengenai keindahan, kelengkapan dan kemewahan hiasan / perabot keris adalah tergantung pada akan diberikan kepada siapa keris itu nantinya, tergantung pada status pribadi si pemilik keris di masyarakat dan tergantung kemampuannya membayar biaya pembuatan keris. Semakin tinggi status duniawi sang pemilik keris, maka akan semakin lengkap dan mewah hiasan kerisnya.

Dalam setiap pembuatan keris, seorang empu akan selalu mengutamakan sisi kegaibannya dan sisi keindahannya secara bersama-sama, tidak ada salah satu yang lebih diutamakan, dan semuanya disesuaikan dengan karakteristik orang yang nantinya akan menjadi pemilik keris buatannya itu. Dengan kata lain, bentuk fisik sebuah keris beserta segala hiasan kemewahannya, dan karakteristik gaib di dalam sebuah keris, akan selalu disesuaikan dengan karakter pribadi dan status manusia calon pemiliknya. 

Semua keris dibuat sebaik mungkin sesuai batas kemampuan sang empu keris, melalui proses spiritual untuk mencari tahu keris apa yang cocok bagi si pemesan, puasa dan laku tirakat untuk mendatangkan gaib keris yang cocok dengan si pemesan, puasa dan laku tirakat dalam masa persiapan pembuatan keris, laku tirakat selama proses pengerjaan hingga selesai, dan sebagainya, sampai keris tersebut selesai dibuat. Setelah selesai pembuatannya pun masih lagi dilakukan proses ritual untuk menyatukan keris dan gaibnya dengan si pemesan. 

Bila pembuatannya belum selesai atau belum sempurna, menurut tanggapan sang empu, maka keris itu tidak akan diserahkannya kepada si pemesan (itulah yang terjadi ketika Mpu Gandring menolak untuk menyerahkan keris buatannya yang belum sempurna, sehingga Ken Arok harus merampasnya dengan paksa). Keris tersebut baru akan diserahkan kepada si pemesan bila menurut sang empu keris tersebut telah benar-benar sempurna segalanya, sempurna pembuatannya, sempurna sesajinya, dan sempurna kecocokkannya dengan si pemesan.
Berdasarkan ulasan di atas kita menjadi tahu bahwa setiap keris yang dibuat oleh seorang empu keris, kecuali keris-keris yang dibuat secara masal, merupakan sebuah  maha karya  bagi sang empu keris. Keris-keris itu juga secara fisik dan kegaiban bersifat pribadi bagi masing-masing pemiliknya, sehingga kita tidak bisa menilai keris-keris jawa jaman dulu itu sebagai keris tayuhan atau keris ageman.

Pada jaman dulu pun orang-orang tidak memandang keris sebagai keris tayuhan atau keris ageman. Semua orang memahami bahwa keris bukanlah senjata atau perlengkapan perang biasa, dan tidak sama dengan jenis senjata lain, tetapi ada sesuatu yang lain yang diyakini ada di dalam sebuah keris, yaitu kegaiban keris, sedangkan aksesories kemewahan sebuah keris dipandang sebagai perlengkapan kepantasan sebuah keris sesuai status orang yang menjadi pemilik keris.
Pengertian keris tayuhan yang dalam pembuatannya lebih mengutamakan sisi kegaibannya dibanding sisi keindahannya, dan keris ageman yang dalam pembuatannya lebih mengutamakan sisi keindahannya daripada sisi kegaibannya, mungkin lebih cocok diterapkan pada orang-orang jaman sekarang yang ingin mengkoleksi keris-keris baru yang dibuat pada jaman sekarang (Keris Kamardikan). Tuah dan kegaiban keris seringkali menjadi polemik pada masa sekarang ini, karena berbenturan dengan kehidupan yang rasional dan kehidupan agamis, sehingga seseorang yang ingin membeli atau memesan sebuah keris baru, dia harus menentukan terlebih dahulu apakah keris yang diinginkannya itu keris tayuhan ataukah keris ageman.

Pengertian keris tayuhan atau keris ageman mungkin juga lebih cocok untuk kita di jaman sekarang yang memiliki sebuah keris tua jaman dulu, apakah keris itu akan diperlakukan sebagai keris tayuhan yang menuntut pemberian sesaji dan pemeliharaan (penjamasan, dsb), ataukah akan diperlakukan sebagai keris ageman yang lebih menonjolkan sisi keindahannya, yang akan ditambahkan aksesoris berupa sarung dan gagang kayu yang bagus dan mahal, pendok, mendak dan salut berlapis emas, atau mengganti ganja keris dengan yang berlapis emas, sehingga keris itu akan menjadi koleksi yang bisa dibanggakan untuk ditunjukkan kepada orang lain.
Pada masa sekarang banyak keris yang sudah diganti ganja-nya. Ganja keris adalah bagian paling bawah dari bilah keris yang walaupun kerisnya berada di dalam sarungnya, bagian itu kelihatan dari luar, karena posisinya berada dekat dengan gagang pegangan keris.

Orang-orang biasa atau rakyat umum yang memiliki keris bersalut emas, yang didapat sebagai warisan dari pendahulunya, yang merasa kondisi kerisnya tidak sesuai dengan statusnya sekarang di masyarakat, banyak yang mengganti ganja kerisnya, yang semula berlapis emas diganti dengan yang biasa tidak berlapis emas, sehingga tidak kelihatan lagi kemewahannya. Di sisi lain juga banyak orang
yang sengaja mengganti ganja kerisnya, yang semula biasa saja tidak berlapis emas diganti dengan yang berlapis emas, sehingga kerisnya akan tampak lebih mewah dan keren (selain yang juga dilakukan oleh para pedagang keris untuk menambah nilai jual keris-kerisnya).


Pengertian keris tayuhan atau keris ageman mungkin juga lebih cocok untuk diterapkan dalam menilai keris-keris yang dibuat di luar jawa, yang seringkali dalam kehidupan masyarakatnya keris lebih banyak ditonjolkan sebagai simbol kehormatan seseorang, sehingga keris-keris akan ditampilkan penuh dengan kemewahan (kecuali di daerah-daerah yang filosofi pembuatan kerisnya sama dengan di jawa).


Pengertian dan uraian lebih lanjut tentang keris-keris yang dibuat oleh seorang empu keris apakah benar dalam pembuatannya ditujukan untuk menjadi keris tayuhan atau keris ageman dapat dibaca di  Keris dan Empu Keris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA