Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Rabu, 28 November 2012

ETIKA DALAM PERKERISAN /MELIHAT PUSAKA

Etika Dalam Pakerisan-Melihat Bilah Keris
Sebagaimana halnya dengan cabang budaya lainnya, dunia perkerisan juga mempunyai beberapa kebiasaan, aturan, norma, tata kesopanan dan etika yang berkaitan dengan adat istiadat setempat. Etika antara daerah yang satu dengan daerah lainnya tentu saja berbeda, menyeseuaikan dengan adat setempat, namun pada dasarnya etika tersebut tetap berpegang pada niat dan usaha untuk tidak berbuat sesuatu yang mungkin akan menimbulkan salah pengertian pada orang lain dan menghindarkan terjadinya ketidaksenangan.

Berikut adalah beberapa contoh etika pergaulan antarsesama pecinta tosan aji dan keris yang berlaku terutama di Pulau Jawa dan Madura seperti yang dijabarkan dalam Ensiklopedi Keris karangan Bambang Hasrinuksmo.

Melihat Bilah Keris

Saat melihat bilah keris yang bukan miliknya ada aturan tertentu agar tidak terjadi kesalah pahaman dan menyinggung perasaan penggemar keris yang lain.

Pertama, minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Jika Anda mengambil keris dan mengeluarkan bilah keris itu dari warangkanya, kemudian mengamati bilah  tanpa meminta izin kepada pemiliknya, besar kemungkinan akan menyinggung perasaan Sang Pemilik. Seolah-olah Anda mengabaikan si pemilik keris yang ada disitu.

Jika sudah mendapat izin dari sang pemilik, untuk membuka atau mengeluarkan bilah keris dari warangkanya juga ada beberapa aturan yang harus diperhatikan. Jika Anda mengeluarkan bilah keris itu dengan tujuan meihat dan mengagumi keindahannya, itu disebut nglolos pusaka. Jangan menggunakan istilah ngunus pusaka. Ngunus pusaka biasanya diartikan sebagai mengeluarkan bilah keris dari warangkanya dengan tujuan untuk ditusukkan.

Menurut norma dan etika yang berlaku di Yogyakarta dan Surakarta, cara yang benar untuk mengeluarkan bilah keris adalah sebagai berikut :

Peganglah bagian pangkal gandar dengan tangan kiri, posisi tangan menghadap ke atas. Ujung gandar mengarah serong ke kiri atas. Gunakan tangan kanan untuk memegang ukuran keris. Posisi tangan kanan yang memegang ukiran keris menghadap ke bawah. Tekankan jempol kanan pada tampingan ke warangka, sambil pelan-pelan menggerakkan tangan kiri ke atas sehingga warangka itu bergerak naik. Bersamaan dengan tangan kiri itu, bilah keris perlahan-lahan akan terlepas dari warangkanya.

Yang perlu diperhatikan, melepaskan bilah keris dari warangkanya adalah dengan menggerakkan warangkanya, sedangkan bilahnya tetap dalam keadaan diam. Tangan kanan yang menggenggam ukuran (hulu keris) tidak digerakkan, tidak ditarik sama sekali.

Jika bilah kerisnya Anda tarik keluar dari warangkanya, itu bukan nglolos pusaka tetapi telah ngunus.

Setelah keris lepas dari warangkanya, taruhlah keris itu dalam posisi yang aman, misalnya di atas meja. Selanjutnya, angkat bilah keris dengan tangan kanan Anda hingga sejajar dengan kening atau telingan kanan, sekitar satu atau dua detik. Ini adalah sebagai penghormatan kita terhadap empu si pembuat keris sekaligus menghormati pemilik keris tersebut

Sesudah gerak penghormatan selesai dilakukan, Anda dapat mengamati dan mengagumi keindahan bilah keris itu. Selama Anda mengamati , ujung bilah keris harus selalu serong ke atas. Jagalah, jangan sampai ujung bilah itu tertuju pada seseorang yang hadir di tempat itu. Agar posisi miring lebih mudah dipertahankan, kuku jari jempol kiri digunakan sebagai alas atau landasan untuk menaruh ujung bilah keris itu.

Jika Anda ingin mengamati hiasan pamornya lebih dekat, letakkan ujung bilah keris itu di atas kuku kempol tangan kiri, selanjutnya Anda tarik bilah keris itu dekat mata Anda. Ketika Anda ingin membalik bilah keris iru untuk melihat pamor pada sisi bilah sebaliknya, ujung bilah tetap di atas kuku jempol tangan kiri.

Meskipun aturan itu nampak aneh,namun sebenarnya ada alasan dan tujuan dari itu. Bilah keris memang sebaiknya tidak terpegang atau tersentuh jari secara langsung. Bukan karena soal warangan atau racun , melainkan untuk melindungi bilah keris. Jari jemari kita mungkin tanpa disadari sebenarnya basah atau lembab karena keringat. Keringat itu mengandung garam serta zat kimia lainnya yang jika sampai menempel di permukaan bilah, bilah keris itu akan mudah berkarat.

Selain itu, jangan sekali-kali meninting (menjentik dengan jari ) bilah keris itu sebelum mendapat izin dari pemiliknya.

Untuk memasukkan bilah keris kembali ke warangkanya pun ada aturannya. Memasukkan bilah keris ke dalam warangkanya disebut nganjingaken atau nyarungaken.
Orang yang melepaskan keris itu dari warangkanya, maka dia juga lah yang wajib menyarungkannya kembali.

Untuk memasukkan bilah keris kembali ke warangkanya, caranya adalah sebagai berikut :

Pertama, peganglah warangka keris dengan tangan kiri pada bagian pangkal gandar, dengan jari-jari menghadap ke atas. Tempatkan warangka itu di depan perut, kira-kira sejarak 5 sampai 10 cm dari perut. Ujung gandarnya harus lebih tinggi daripada badan warangka dengan kemiringan sekitar 15-30 derajat.

Tangan kanan, dengan hati-hati, memasukkan ujung bilah keris ke dalam leng-lengan sampai masuk sedalam lebih kurang 2 cm. Sesudah itu, tangan kanan yang memegang hulu keris harus diam. Tangan kirilah yang bergerak, sehingga warangka keris itu bergerak menyarungi bilah kerisnya.

Sambil menggerakkan warangkanya untuk menyarungi bilah keris, ubahlah posisi gandar warangka itu pelan-pelan sehingga ujung warangka serong ke atas, sekitar 15 derajat. Ingat, bilah keris yang dipegang dengan tangan kanan harus tetap diam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA