Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Senin, 03 Desember 2012

PUTHUT/PUTHUT KEMBAR

Puthut Kembar oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris Umphyang. Padahal sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang empu, bukan nama dapur keris. Juga ada keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam aksara Jawa kuno yang tertulis “Umpyang Jimbe”. Ini juga merupakan keris buatan baru, mengingat tidak ada sama sekali dalam sejarah perkerisan di mana sang empu menuliskan namanya pada bilah keris sebagai label atau trade mark dirinya. Ini merupakan kekeliruan yang bisa merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan.
 Puthut dalam terminologi Jawa bermakna cantrik, atau orang yang membantu atau menjadi murid dari seorang pandita/empu pada zaman dahulu. Bentuk Puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga sebilah pusaka oleh sang Pandita, juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan gelungan di atas kepala, menunjukkan adat menyanggul rambut pada zaman dahulu. Bentuk wajahnya, walau samar, masih terlihat jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur Puthut mulanya dibuat oleh Empu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi ini pun masih belum bisa dibuktikan secara .ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah Untuk sama mengkaji keris Puthut yg dikatakan buatan Mpu Umyang (Pajang) yg juga dikenali sbg Mpu Kodhok, Ki Tundhung Kudus dan yg paling terkenal sbg Ki Nom (Ki SupO anom} 
Antara Puthut, Puthut Kembar & Pendita Semedi

Salam sejahtera,
Tergelitik menulis ini karena terdapat beberapa keris yang biasa kita sebut dapur Puthut, Puthut Kembar, dan ada juga yang menyebut Pendita Semedi. Kebanyakan bahasa pasar ada yang menyebutnya Keris Umyang Jimbe, Umyang Tagih dsb... - tapi untuk yang ini kita abaikan saja.
Jika kita menyebut dapur Puthut, maka lebih baik kita mengkaji perihal penyebutan, kedudukan dan strata dari para anggota keluarga besar kependitaan dalam sebuah padepokan. Ini juga akan terkait dengan pemaknaan dari dapur tersebut (antara Puthut, Puthut Kembar dan Pendita Semedi).
BYH. Sastrapustaka menjelaskan sebutan tugas dari para anggota keluarga besar pendeta, serta perbedaan peran kaum lelaki dan perempuannya dalam pranata masyarakat padhepokan yang ditetapkannya. Untuk lelaki, tugas beserta status kedudukan yang dimilikinya adalah sebagai berikut:

1. Pendeta/Pandhita: seorang guru besar yang memiliki kemampuan linuwih;

2. Hajar: juru pemulang/seseorang yang bertugas mengajar sehari-hari;

3. Wasi: juru pengadilan/seseoran g yang bertugas untuk memutuskan perkara secara adil;

4. Janggan: juru tulis yang juga bertugas mengarang dan disebut pula dengan pelajar;

5. Manguyu: seseorang yang bertugas untuk memukul genta di tempat pemujaan;

6. Puthut: seseorang yang bertugas untuk merawat tempat bersemadi. Dengan demikian ia merupakan abdi kepercayaan sang pendeta;

7. Cekel: seseorang yang bertugas merawat tanaman di kebun;

8. Cantrik: seseorang yang bertugas meladeni segala hal/pesuruh;

9. Uluguntung: lurah kampung yang bertugas mengatur pekerjaan yang ada;

10. Galuntung: orang yang bertugas membangun rumah, mencari air dan kayu serta pekerjaan kasar yang lain;

11. Indhung-indhung: orang yang bertanggung jawab terhadap para pemondok, di mana juga memiliki tugas untuk bebenah di sekitar hutan.


Untuk yang perempuan, penjelasnnya adalah sebagai berikut:

1. Dungik: perempuan yang dipingit serta merupakan calon isteri hajar;
2. Mentrik: perempuan yang dipercaya untuk merawat busana dan tata boga;
3. Sontrang: perempuan yang merawat anak cucu sang hajar;
4. Dhayang: seseorang yang bertugas menjaga tempat semadi;
5. Bidhang: seseorang yang bertugas mengasuh anak hajar;
6. Endhang: bertugas menjadi utusan/pelayan;
7. Kaka-kaka: orang yang bertugas menyiapkan masakan;
8. Abon-abon: tukang sapu atau tukang cuci;
9. Abet-abet: orang yang mencari air, memetik daun-daunan untuk sayur, dsb.
10. Obatan: perempuan yang bertugas berjualan ataupun berbelanja di pasar.
(dari BYH. Sastrapustaka).


Dari klasifikasi tugas dan sebutan di atas, terlihat adanya suatu tatanan masyarakat padhepokan yang sudah jelas stratifikasinya. Puncak tatanan ada pada diri seorang pendeta yang memang harus mampu bertindak sebagai seorang guru besar yang memang

harus mandiri dalam kancah bidang keilmuannya. Sedangkan cantrik ternyata bukanlah seseorang yang berkaitan dengan makna murid seperti yang kita bayangkan. Mesti dalam Bausastra Jawa-Indonesia “Janggan” diartikan Cantrik/Pelajar, nampaknya deskripsi

tugasnya sebagai “seseorang yang melayani segala hal”, terasa lebih tepat. Ini berkaitan dengan konteks paradigma kependidikan di padhepokan yang memang terjadi lewat dedikasi pengabdian dalam arti seutuh-utuhnya. Sedangkan "Janggan" jika keahliannya dipandang mumpuni maka masuk dalam kategori mPu Janggan (yang kemudian dikenal dalam bahasa sekarang sebagai Pujangga (dari kata mPu Janggan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA