Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Kamis, 13 Desember 2012

Status Keris dan Kelas Keris di Dunia Manusia

Mungkin awalnya sebuah keris hanyalah sebuah senjata tikam atau sabet. Tetapi kemudian orang membuat keris memiliki kegaiban di dalamnya, menjadi senjata yang berbeda dengan jenis senjata lain, memiliki suatu kegaiban sebagai senjata tarung sekaligus sebagai alat keselamatan dari serangan gaib.

Seiring perkembangan jaman, di pulau Jawa khususnya, pada jamannya,
selain faktor kegaibannya, sebuah keris menjadi lambang derajat pemiliknya, lebih dari sekedar senjata perang / tarung. Dibuat khusus oleh empu pembuatnya untuk si pemilik. Fisik keris, kegaiban / tuah dan tingkat kesaktiannya oleh si empu disesuaikan dengan kondisi si pemesan sesuai batas kemampuan si empu. Keris juga tidak ditampilkan sebagai alat kegagahan, karena dibawa dengan diselipkan di belakang pinggang. Bila keris hanya menjadi sebuah senjata tarung atau senjata tikam, tidak mungkin keris akan dibuat sangat indah bentuknya atau beraksesoris mewah, bila akhirnya hanya akan menjadi sebuah senjata yang berlumuran darah.

Pada awalnya, di tanah jawa (jawa tengah dan jawa timur) keris diciptakan hanya untuk memberikan tuah perlindungan gaib, kesaktian, kekuasaan dan wibawa. Keris adalah suatu benda yang menjadi kebanggaan masyarakat pada umumnya dan juga menjadi lambang status / derajat pemiliknya. Keris menjadi "keharusan" untuk dimiliki oleh para pejabat, baik raja, keluarga kerajaan atau bangsawan, orang-orang kaya, para senopati sampai prajurit  (prajurit biasanya menggunakan jenis tombak), adipati / bupati sampai lurah desa. Di kalangan masyarakat umum-pun hampir semua orang laki-laki ingin memiliki keris,
terutama mereka yang memiliki ilmu beladiri dan orang-orang tua yang menghayati spiritual kejawen.Di pulau Jawa khususnya, pada jamannya, keris merupakan lambang derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata perang / tarung. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang cara mengenakan keris dan jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang. Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah. Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati. Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja. Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati. Kehormatan pribadi seseorang bukan hanya ditentukan oleh status keningratan atau jabatan, kemewahan atau kekayaan, tetapi terutama juga adalah kepantasannya dalam berperilaku dan berpenampilan, kepantasannya dalam mengenakan busana dan pusaka, dan kepantasannya dalam menempatkan diri dalam pergaulan dan di masyarakat, sesuai derajatnya masing-masing.

Bila ada seseorang memiliki keris yang derajatnya lebih tinggi dari kedudukan dirinya di masyarakat, maka orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan diserahkan / dipersembahkannya kepada orang yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga bila seseorang memiliki keris yang peruntukkannya untuk kelas derajat yang lebih rendah, biasanya akan diberikannya kepada orang lain yang lebih pantas untuk memilikinya. Keberadaan sebuah keris bersifat pribadi. Keris menjadi lambang kehormatan pribadi dan harga diri seseorang. Keris diakui sebagai sesuatu yang menyatu dengan pribadi pemiliknya, sehingga sebuah keris milik seseorang akan sangat dihormati, sama seperti menghormati orang pemiliknya, sehingga keris seseorang dapat diterima dan diakui untuk mewakili kehadiran seseorang sebagai pengantin pria yang berhalangan hadir dalam acara pinangan atau perkawinan, atau mewakili kehadirannya dalam acara penting kekeluargaan, dan keris seorang raja dapat mewakili kehadirannya dalam acara kenegaraan. Dan dalam setiap upacara formal, seseorang yang terpandang atau berderajat tinggi akan jatuh martabatnya / kehormatannya jika menghadiri upacara tersebut tanpa mengenakan keris.
Keris menjadi kelengkapan "wajib" untuk dikenakan sebagai busana kehormatan dalam acara-acara resmi kenegaraan, kekeluargaan, perkawinan, dan acara ritual kerohanian, seperti acara ruwatan, selametan, bersih desa, dsb. 

Demikianlah, keris memiliki status tersendiri di masyarakat dan menjadi unsur penting dalam budaya dan kehidupan sehari-hari, lebih daripada sekedar sebuah senjata tarung.

Pada jaman itu seorang empu keris adalah juga seorang spiritualis dan pemuka agama (baca: Keris dan Empu Keris). Karena itu sebuah keris yang diterima seseorang dari seorang empu keris akan sangat dihargai dan juga 'dikeramatkan', lebih daripada sekedar jimat dan senjata, karena berisi doa-doa keselamatan dan kesejahteran dari seorang spiritualis / pemuka agama untuk si pemilik keris
Dengan demikian, lebih daripada sekedar sebuah senjata, keris juga secara psikologis menjadi lambang kerohanian dan kedekatan hati dengan Tuhan. Karena itulah sang pemilik keris akan benar-benar menjaga dan memelihara kerisnya, bahkan akan 'mengeramatkan'-nya, lebih daripada sekedar senjata atau jimat. Keris menjadi sarana kedekatan hati dengan Tuhan dan juga menjadi sarana pemujaan kepada Tuhan. Karena itu sang pemilik keris akan selalu menjaga kelurusan hati, tekun beribadah, menjaga moral dan budi pekerti dan sikap ksatria. Itulah sebabnya orang-orang yang hidup dalam dunia kejahatan, yang menjadi penyamun, perampok, dsb, orang-orang golongan hitam, tidak memakai keris, tetapi menggunakan senjata jenis lain.

Mengenai kelengkapan dan kemewahan hiasan / perabot keris adalah tergantung pada akan diberikan kepada siapa keris itu nantinya, tergantung pada status pribadi si pemilik keris di masyarakat. Selain kesanggupan untuk membayar biaya pembuatan keris, status pribadi itulah yang menentukan kepantasan keris yang akan dikenakannya. Semakin tinggi status kedudukan sang pemilik keris, maka akan semakin lengkap dan mewah hiasan kerisnya.
1.  Keris Pusaka Kerajaan.
  1. Keris-keris yang dalam pembuatannya ditujukan untuk menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah kerajaan.
  2. Keris-keris yang oleh pemerintahan kerajaan diandalkan untuk mengamankan kerajaan dari gangguan kerusuhan, pemberontakan atau serangan gaib.
Keris-keris jenis ini biasanya disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan dan tempatnya disendirikan terpisah dari pusaka-pusaka yang lain dan baru akan dikeluarkan bila ada upacara-upacara kerajaan atau bila terjadi situasi yang mendesak dan berbahaya.

P
usaka kerajaan berbentuk tombak dan payung kebesaran, yang juga merupakan lambang kebesaran sebuah kerajaan, biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana raja.

Dalam kategori pusaka kerajaan ini termasuk juga, sesuai tingkatannya, pusaka-pusaka
yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran dari sebuah kadipaten atau kabupaten.

Contohnya adalah keris Nagasasra dan keris Sabuk Inten, sepasang keris yang dijadikan lambang kebesaran kerajaan Majapahit. Sepasang keris ini, menurut sejarahnya, pernah digunakan untuk membersihkan wilayah kerajaan Majapahit pada saat terjadi wabah penyakit sampar yang menyerang rakyatnya.

Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir dan kekuasaan pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten juga ikut diambil dan dipindahkan ke Demak, dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak.

Contoh lainnya adalah pusaka Bende Mataram yang digunakan oleh kerajaan Mataram (Panembahan Senopati) untuk menaikkan semangat tempur prajurit Mataram, tetapi sekaligus merusak psikologis prajurit musuh, pada saat berperang melawan prajurit kerajaan Pajang (Sultan Adiwijaya).

     2.  Keris Raja.  
Keris raja ada 3 macam, yaitu :
  -  keris yang menjadi pegangan sang raja sehari-hari (bersifat pribadi dan dipakai oleh sang raja
     sehari-hari).

  -  keris yang merupakan keharusan untuk dimiliki oleh seorang raja (biasanya dikenakan dalam                 upacara-upacara kerajaan).
  -  keris yang diberikan / dipersembahkan oleh orang lain kepada raja.
Selain yang sehari-hari dipakai oleh sang raja, keris-keris lainnya disimpan dalam ruangan pusaka kerajaan.

     3.  Keris keluarga kerajaan / bangsawan, bupati / adipati.

Jenis ini adalah keris-keris yang memiliki tanda / bentuk tersendiri sesuai statusnya. Contohnya adalah keris-keris ber-luk lima dan keris Singa Barong.
Jenis keris ber-luk lima, keris pulanggeni atau keris pandawa, dan keris Singa Barong, hanya boleh dimiliki oleh raja, keluarga raja / bangsawan, bupati dan adipati (kalangan ningrat). Selain mereka, bahkan para menteri kerajaan, panglima, senopati dan prajurit, tumenggung, demang dan lurah, dan orang-orang kaya, yang tidak memiliki garis kebangsawanan dan bukan kerabat kerajaan, tidak boleh memilikinya, apalagi rakyat biasa.

     4.  Keris untuk menteri dan pejabat kerajaan, panglima, senopati dan prajurit.

Keris-keris ini memiliki tanda khusus yang melambangkan status mereka di kerajaan dan biasanya memiliki hiasan-hiasan yang melambangkan derajat mereka.

     5.  Keris untuk orang-orang kaya (yang bukan kerabat kerajaan), tumenggung, demang dan lurah.

Biasanya memiliki hiasan-hiasan yang melambangkan derajat mereka.

     6.  Keris milik seorang panembahan / spiritualis dan keris milik seorang raja atau keluarga raja
          yang sudah 
mandito (meninggalkan keduniawian).
Biasanya ber-luk 7 atau 9.
Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan mewah sesuai kondisi mereka yang sudah meninggalkan keduniawian.

     7.  Keris untuk ksatria dan rakyat biasa.

Biasanya tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah, sesuai budaya dan kebiasaan mereka untuk merendahkan hati. 
Keris yang khusus dibuat untuk para ksatria, pesilat dan pendekar dunia persilatan biasanya sederhana bentuknya, dan tidak menunjukkan kesan angker, tetapi memiliki kesaktian gaib yang tinggi dan mengandung energi gaib yang tajam. Keris-keris jenis ini biasanya aktif berinteraksi dengan kebatinan pemiliknya, walaupun kerisnya tidak dikeluarkan dari sarungnya.
Keris untuk rakyat biasa, sesuai pemiliknya, biasanya tuah utama keris-keris tersebut bukan untuk kesaktian, kekuasaan atau wibawa, tetapi untuk perlindungan gaib, ketentraman keluarga, kerejekian dan kesuburan. Keris untuk rakyat biasa biasanya pembuatannya dilakukan secara masal oleh sang empu, karena tidak bersifat pesanan khusus, dan yang melakukan penempaannya adalah para cantrik-cantriknya.

Sesuai jenis keris-keris tersebut di atas, para empu pembuatnya pun terbagi-bagi sesuai kelasnya masing-masing yang diterima dan diakui di masyarakat dan di lingkungan perkerisan, yaitu empu kerajaan, empu kelas menengah dan empu desa.

  Status Keris dan Kelas Keris di Dunia Gaib Perkerisan

Bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib khodam keris juga ada aturan hirarki status dan kelas gaib keris, yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan wahyu dewa itu sejalan.
Sesuai status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan, maka urutan gaib keris yang menonjol dalam menunjukkan bentuk penyatuannya dengan manusia adalah sbb :
  1. Keris-keris ber-luk 5, keris pulanggeni, singa barong dan keris-keris keningratan lain, yang dalam pembuatannya ditujukan untuk dimiliki oleh seorang raja atau orang-orang yang memiliki status keningratan karena status keluarga / keturunan seorang raja / bangsawan.
  2. Keris-keris bertuah kekuasaan dan wibawa.
  3. Keris-keris bertuah kewibawaan.
  4. Keris-keris bertuah kesaktian.
  5. Keris-keris bertuah kesepuhan.
  6. Keris-keris bertuah kerejekian.
  7. Keris-keris bertuah pengasihan.
Jika ada beberapa / sekelompok keris yang mempunyai fungsi tuah yang sama, misalnya ada beberapa keris yang sama-sama mempunyai tuah untuk kekuasaan dan wibawa, atau sama-sama mempunyai tuah untuk kerejekian, maka keris-keris yang sama tuahnya itu yang lebih tua akan mewakili keris-keris yang lebih muda umurnya.

Sesuai status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan itu, kualitas keris yang dibuat dan kemampuan para empu keris dalam membuat masing-masing jenis keris di atas pun terbagi-bagi sesuai kualitas masing-masing empu keris yang ditentukan berdasarkan kelas / tingkatan kualitas wahyu dewa yang telah diterima oleh masing-masing empu keris, tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan pribadi manusia sang empu keris.

Sehubungan dengan tulisan di atas, mengenai bentuk penyatuan / pendampingan isi gaib keris dengan manusia pemiliknya, maka jika seseorang mempunyai beberapa buah keris, mungkin tidak semua gaib keris akan tampak mendampingi si manusia, mungkin hanya satu saja mewakili gaib keris yang lain, dan tidak semuanya menonjol dalam memberikan tuahnya kepada manusia, karena ada aturan hierarki status dan kelas gaib keris.

Secara umum, yang lebih menonjol menunjukkan penyatuannya dengan manusia adalah keris-keris yang berfungsi untuk penjagaan gaib, terutama didapatkan dari keris-keris untuk keningratan dan yang bertuah untuk kekuasaan dan/ atau wibawa. Karena itu jika seseorang memiliki beberapa buah keris yang fungsinya berbeda-beda dan ingin semua keris memberikan tuah secara bersama-sama dan terkoordinasi, maka harus ada upaya dari si manusia untuk menyatu dan mengsugesti keris-kerisnya.

Jika seseorang mempunyai beberapa buah keris, sebenarnya masing-masing keris itu dapat memberikan tuahnya secara terkoordinasi sesuai jenis tuahnya masing-masing. Namun dalam pelaksanaannya tergantung juga pada tingkat penyatuan masing-masing keris dengan manusia pemiliknya.

Secara alami tingkat penyatuan masing-masing keris dengan manusia pemiliknya itu selain tergantung pada tingkat penyatuan masing-masing pihak secara hati dan batin, juga tergantung pada kecocokan sifat fungsi keris dengan aktivitas keseharian pemiliknya, sehingga seorang pemilik keris yang kesehariannya bekerja sebagai seorang karyawan, mungkin hanya kerisnya yang berfungsi kerejekian-pengasihan saja yang menonjol tuahnya, bukan yang bertuah kekuasaan dan wibawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA