Social Icons

Blog Keris Pusaka;silakan call/sms ke nomor;087855335960 @ 081235415435

Pages

Sabtu, 08 Desember 2012

ARTIKEL KERIS BUGIS /SUMBAWA MELAYU

Tak mudah menyusun sebuah buku tentang keris Sulawesi, kita harus mengakui bahwa notasi kuno pun dipastikan tak memadai, sementara nara sumber tutur sering mengalami pergeseran. Dalam pengetahuan keris kita masuk pada tafsir-tafsir…. Lalu sebagiannya berkait pada artefak keris itu sendiri dan manuscript yang ditemukan.

Diskusi Senjata Pusaka Bugis, 12 Nopember 2011, cukup menggairahkan dengan pemaparan yang sangat komprehensif dari prof. Ahmad Ubbe yang lalu diramaikan oleh hipotesa atau pendapat-pendapat dari Dr. Ramli Raman dari Malay University, yang membawa banyak kabar tentang penelitiannya. Keduanya memiliki banyak detail-detail yang berbeda, tetapi satu kesamaan bahwa keduanya sepakat apa yang disebut Bugis terkait perkerisan bukan asal-usul “keris” tetapi “bugis influence” atau pengaruh Bugis memang ada dimana-mana. Nomenklasi pada keris Bugis – Melayu memang sangat kaya sehingga tampaknya perlu dikuatkan dengan pembakuan istilah bersama para komunitasnya dari sisi pandang yang berbeda-beda.

Dalam buku ”Pesona Hulu Keris”, saya (penulis) pernah ungkapkan dengan hati-hati : ”Although there is not a lot of information about the Malay Peninsula kris, the kris lover communities that have emerge in Malaysia and Singapore are now trying to discover past kris, There for, there are many terminologies for kris hilt that are due to the friendship and influence of the etnic language on the Malay Peninsula. An example is Anak Ayam Sejuk kris hilt for Jawa Demam……./ Tidak banyak catatan tentang keris Semenanjung Malaya, tetapi sekarang mulai diangkat dengan baik oleh komunitas penggemar keris yang berkembang di Malaysia dan Singapura. Oleh sebab itu sangat banyak istilah-istilah hulu keris yang ada lahir karena pergaulan dan pengaruh bahasa etnik Semenanjung Malaya, seperti sebutan hulu keris Anak Ayam Sejuk, untuk menyebut Jawa Demam......”. (132; The Beauty of Krist Hilt).Tinjauan etnografis tampaknya harus menyertai penelitian dan kemudian dikemukakan dalam berbagai hal, bahwa orang Bugis adalah insan bahari dan telah berasimilasi dengan suku-suku lain di Semenanjung bahkan ke Sumbawa. Disinilah akulturasi terjadi, sehingga mewarnai pada kerisnya, pada sarung (sampirnya) dan busana adatnya.

Jika analisa persebaran keris Jawa punya ”Ekspedisi Pamalayu”, Negara Kertagama... titik tolak buku keris bugis tampaknya masih ada kerancuan terutama pada tafsir-tafsir, apalagi jika persebaran pengaruh Bugis berpijak pada sastra atau roman sejarah I La Galigo... Namun semua kebutaan terhadap Senjata Pusaka Bugis sudah dibuka jendelanya oleh sebuah buku yang sarat dengan bahasa lokalnya, untuk dilanjutkan oleh hasil penelitian para peminat penelitian keris Bugis lainnya.

Ilmu sosial budaya bukanlah ilmu eksakta, mereka akan mengikuti temuan baru, analisa baru atau bukti ilmiah yang baru dikemudian hari nanti, dan kita pahami bersama sebagai sesuatu yang akan terus menuju kesempurnaannya.
Bravo Bugis - Melayu.
GAGRAK SEBAGAI ISTILAH YANG MULAI POPULER
Dibandingkan pada tahun 1980-an, keris-keris yang kita jumpai sangat terbatas, antara lain umumnya keris tangguh Majapahit dan Mataram. Setelah masa euforia (Indonesia mendapat pengakuan UNESCO), sosialisasi perkerisan semakin semarak. Pameran dan bursa diadakan dimana-mana, keris-keris bermunculan, semakin variatif karena apa yang belum pernah kita lihat mulai bermunculan. Keris penemuan (ditemukan di sungai) mulai terkenal dengan keris Singasari, kini Palembang sungai Musi juga mulai sering ditemukan keris-keris yang spektakuler baik detailnya maupun penggarapannya hingga pada asesorinya, diduga jaman Sriwijaya. Kemudian keris bermuculan di Jawa Barat (Cirebon) sungguh mempesona dengan sarung dan asesori yang sangat kaya model. Kekayaan dhapur rupanya tak terbatas pada yang sudah tertulis di buku-buku yang ada, keris mulai disimpulkan sebagai ’seni rupa’ senjata. Artinya keris-keris yang ada (sepuh) adalah karya yang diciptakan oleh seniman (empu) dengan gaya dan idenya masing-masing.Area ditemukannya di Banten - dengan hulu keris khas Jawa Barat.Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram dan Ukiran tanpa PatraKajian-kajian terhadap keris juga terus dilakukan, sehingga melahirkan pengetahuan baru, menambah dan menyempurnakan yang ada, juga merevisi tulisan-tulisan terdahulu. ’Kawruh Padhuwungan’ menjadi semakin kompleks. Jika masa lalu kita terkagum-kagum oleh tulisan GJ. Tammens, W.H. Rassers dengan 'On the Javanese kris', Dr. Isaac Groneman dan penulis lainnya, perkembangan notasi tentang keris kemudian tidak berhenti begitu saja, muncul tulisan ‘The World of The Javanese Kris’ – Garrett Solyom, David Van Duuren dengan ‘An Earthly Approach to a Cosmic Symbol’, kemudian Karsten Sejr Jensen menyusun ‘Kris Disk’.

Ada beberapa hal yang menarik adalah mengenai ”tangguh”. Boleh dikatakan hampir semua penulisan tentang tangguh hanya dilakukan oleh penulis-penulis Indonesia seperti pada buku-buku kuno 'Pakem Katjoerigan’ oleh Tanojo R., ’Ular-ular Panangguhing Dhuwung’ oleh Suranto Atmosaputra, ’Dhuwung Winawas Sakwatawis’ oleh Darmosoegito, ’Pakem pengetahuan tentang Keris’ oleh Kusni, Serat Centhini dan juga penulis seperti Haryono Arumbinang, Bambang Harsrinuksmo.... mereka dengan segala cara menggambarkan tentang tangguh keris dengan kata-kata agar memadai apa yang dimaksud. Saat itulah muncul sebuah kesenangan menentukan tangguh keris. Pengayaan sebutan semakin merebak seperti gagah, wibawa dlsb, sementara apa yang digambarkan dengan kata-kata sering tak bisa ditangkap bentuk visualnya secara tepat, karena karya tulis waktu itu tidak disertakan dokumentasi foto, bahkan tidak melalui research yang serius.

Istilah 'tangguh' bisa disimpulkan artinya adalah ’perkiraan jaman pembuatan’ yang ditentukan dari bentuk keris, dimana bentuk keris itu mempunyai ciri-khas gaya (characteristic style) tertentu sesuai jamannya. Pemahaman ini telah dirintis oleh para sesepuh keris masa lalu, seiring dengan penulisan pada buku-buku yang ada. Kemudian pula, dalam komunikasi para penggemar keris ciri-khas gaya perwujudan seutuhnya (keris bersama warangkanya) diistilahkan dengan kata ”gagrak”, yang kemudian entah dari mana pemahaman itu hadir menjadi sangat kental pengertian ’gagrak’ adalah gaya dari perwujudan seutuhnya sesuai jaman kerajaan atau kedaerahannya. Gagrak dalam bahasa Jawa artinya tampan, gagah.... mungkin korelasinya dengan istilah gagrak keris adalah ”postur” atau ”dedeg”. Artinya melihat dedegnya bisa ditentukan gagrak keris itu adalah Hamengku Buwanan, Pakubuwanan, Luar Jawaan, atau Balian... dst (?). Walaupun mungkin bilahnya adalah tangguh Majapahit atau Mataram. Istilah 'gagrak' lebih dititik beratkan pada aliran jenis warangka dan keharmonisan antara warangka dengan hulu kerisnya.


Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram yang patah dan Ukiran tanpa Patra.
Kesepakatan ’tangguh’ memang terasa riskan, oleh sebab tuntutan agar 'tangguh' lebih dapat 'dipastikan' atau bukan hanya 'perkiraan'. Seolah nilai 'kebenaran ilmiah' menuntut 'tangguh' menjadi kajian akademik terutama pada rintisan ”kerisologi”. Sedangkan yang berkembang dengan istilah 'gagrak' tampaknya lebih menuju simplifikasi (penyederhanaan) demi kesenangan bersama, atau demi perdagangan (barang antiq), sehingga selain istilah 'tangguh' , mulai populer istilah 'gagrak' yang kini menjadi sebuah kerangka pengelompokan. Misalnya yang disebut 'gagrak Surakarta', 'gagrak Ngayogjakarta', 'gagrak Jawa Timuran - Madura', tentu akan menimbulkan pertanyaan pula 'gagrak Majapahitan', 'gagrak Pajang', 'gagrak Mataram' dlsb, itu yang bagaimana...? Sementara kita tak pernah mengetahui yang sebenar-benarnya...

Berbeda dengan Karsten dalam ’Kris Disk’ lebih suka menulis secara jujur (ilmiah) tanpa menyebut 'tangguh' pada setiap foto kerisnya dengan keterangan asal-muasalnya sesuai letak geografis dimana ditemukannya. Dilema tentang ”tangguh” memang masih perlu direnungkan dan ditinjau kembali. Sementara pembiasaan menyebut 'gagrak' juga sangat memungkinkan memunculkan perdebatan. Apakah generasi mendatang cukup bisa menerima begitu saja (?). Sementara itu kesenangan atau hobby untuk menentukan 'tangguh' dan menerima pemahaman 'gagrak' telah bersahabat secara alamiah oleh komunitas penggemar keris di Indonesia, menjadi sebuah ’dinamika’ yang pada nantinya akan dituntut pula ’keilmiahannya’... (TJ).


Ditemukan di area Cirebon, bilahnya menurut beberapa penangguh dianggap tangguh Mataram Amangkurat, sementara beberapa penanguh yang berkecimpung dengan keris Cirebon menyebut tangguh Cirebon
SULITNYA MENGUAK PENEMUAN SRIWIJAYA




Penemuan sungai Musi, mendak Sriwijaya yang telah aus ornament 'tumpal'nya.

Saya pikir dan renungkan ternyata begitu sulitnya merangkai perjalanan keris. Saya menyimpulkan bahwa ’sejarah’ keris tidak bisa dituliskan dengan sembarangan dan digampangkan. Setidaknya penelitian archeologist harus berperan. Sudah hampir 2 tahun saya mengikuti jejak penemuan Sriwijaya, karena seorang teman sedang berkutat disana... berburu dan mencatat penemuan sungai Musi. Beberapa hal sangat menakjubkan... ada kemungkinan akan mengubah hipotesa ”keris Singosari” atau lebih tepat disebut jaman Kediri. Bahkan prototype keris jaman itu pun mungkin perlu dikaji ulang, karena pemahaman kita belum melalui penelitian dari manuskrip kuno, sosiologi, anthropologi dan archeo metallurgi. Kita menyerahkan pemahaman-pemahaman yang ada sekarang ini pada kawruh yang turun temurun minim data ilmiah.


Miniatur yang mungkin hanya dapat dicapai dengan alat kuno yang lebih sederhana.


Perhatikan mendak (ring) Sriwijaya yang tak ternilai harganya oleh karena pekerjaan yang sangat rumit dan detail, dengan ornament tumpal yang merupakan chronogram (simbol tahun).


Sriwijaya jauh lebih tua dari jaman Kediri (Mataram Hindu?) ... pada penemuan-penemuan sungai Musi sangat jelas hampir mayoritas keris yang ditemukan memiliki prototype sama dengan penemuan Brantas yang dikategorikan Kediri (saya lebih suka menyebut Kediri dari pada Singosari). Keris di sekitar Sumatera selatan ini, saya yakini pastilah sangat indah dan bukan sembarangan. Beberapa indikasi prototype keris Sriwijaya saya temukan masih sama dengan Melayu (Palembang/Kesultanan) dimana masih ditandai sisa-sisa estetika 'greneng' dari masa Budha Sriwijaya, serta teknologi emasnya yang tak tertandingi. Tetapi berbeda pada penampang gonjo (sirah cecak) serta postur condong leleh yang sangat membungkuk. Sedangkan keris penemuan Musi jika dibandingkan keris penemuan Brantas terdapat perbedaan pula pada sirah cecak (penempang gonjo) dan perbedaan pada ornamental asesori emas terutama pada mendaknya (ring). Ada beberapa peninggalan seni emas yang sangat signifikan menunjukkan bahwa sebuah kebesaran keris Sriwijaya pernah di-agungkan.


Penemuan Sriwijaya sangat berbeda pada sirah cecak dan rumbai grenengnya dibandingkan temuan Brantas, tetapi yang paling signifikan adalah pada mendak bawaan yang masih menyatu, ornament tumpalnya sudah aus, tersisa tiang pegangannya saja.


Pergeseran alat, keinginan pada kepraktisan menurunkan nilai pada hasil karya kriya emas yang canggih di jaman lampau.

Penemuan ”ring keris” (mendak; Jw) dapat menjadi indikasi bahwa memang penemuan Musi dan Brantas tidak sama, dimana tampak bergeser dari detil yang indah.

Berbeda pula setelah jaman Kesultanan dimana semua menjadi sederhana oleh sebab hal: 1. Pengabdian seniman pandai emas (Panday Tamraga) jaman Budha. 2. Kehidupan yang layak bagi seniman waktu jaman Budha. 3. Ada pergeseran teknologi emas.


Terjadi penyederhanaan dimana ornament tumpal berubah menjadi untu walang (Kesultanan)

Mungkin perlu menelusuri bab 3... tentang pergeseran teknologi emas, saya menganalisa teknik tiup (ubub) masa kuno masih menggunakan mulut, sementara kemudian teknologi maju menggunakan ububan kaki, sehingga pekerjaan yang sangat kecil dan detail mulai disederhanakan oleh sebab kemampuan alat sudah berbeda pencapaiannya. Ububan kaki memang lebih cepat dan praktis, sementara teknik kuno menjangkau kerumitan yang tiada tara.

Keris Sriwijaya (Palembang) terus mempengaruhi prototype jaman berikutnya, yang mungkin pula dibawa oleh para seniman mantan pengabdi Tarumanegara... ke timur, lalu hijrahnya empu-empu pada jaman Pajajaran... Ada indikasi bukan oleh sebab ekspedisi Pamalayu dari Singosari yang kemudian mempengaruhi keris-keris seperti yang ditemukan di sungai Musi...?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERI MASUKAN UNTUK MENUNJANG KARYA